April ini…

Akhir-akhir ini…rekan-rekan kantor tempat ku bekerja terlalu peduli padaku. Terlalu peduli dengan statusku yang masih lajang.
Gimana engga…para staff di kantor ku semuanya sudah punya pasangan. Baik yg sudah menikah maupun yang masih pacaran. So..hanya aku satu-satunya karyawan yang masih setia dengan status single alias jomblo.
Aku sih ga masalah..toh kalau memang jodoh belum datang..kita mah cuma bisa istiqomah memperbaiki diri.
Tapi beda dengan pikiran teman-teman ku di kantor. Apalagi setelah awal bulan april ini ada karyawan baru. Dia cewek yg kebetulan seumuran dengan ku, muslim, dan…sudah menikah, punya anak satu.
Sejak itu mereka semakin gencar mencarikan pasangan untuk ku. Ampun dah. Sampai-sampai finance manager (fm) dan project director (pd) di kantor ku itu juga ikut mencarikan “seseorang” untuk ku. #Alamak
kebetulan dikantorku sekarang sedang buka lowongan kerja dan parahnya “fm” serta “pd” ku itu mencomblang-comblangkan aku dengan para pelamar kerja. #Haduuuuuh
niat mereka sih baik..tapi kan ga sampai segitunya. Terima kasih untuk perhatian kalian semua..tapi ga gitu juga kale…

Hijab and me

Sebagian orang mengira hijab itu seperti kebanyakan trend-trend pemakaian jilbab atau kerudung yg dibuat se-fashionable mungkin.
Padahal dalam Islam, hijab itu harus diulur menutupi dada. Naaah disini lah mulai muncul berbagai macam opini ttg hijab.

Sebenarnya saya disini bukan membahas tentang hijab secara lebih jauh..namun hanya ingin sedikit curhat.

Saya ga suka..gaya saya berjilbab yg mengulurkan jilbab ke dada dibilang kampungan, katrok, ketinggalan jaman, karna menurut saya ga ada yg salah selagi saya masih berjilbab sesuai aturan.

Yaaa..jilbab sehari-hari saya hanya jilbab polos dan itu dipakai dengan gaya yg simple. Ga dililit sana sini, ga perlu sampai menghabiskan 1 kotak pentul. Dan kalau habis ambil wudhu tuh ga perlu berjam-jam cuma utk pakai tu jilbab.

Kadang ketika saya lelah dengan omongan mereka, sesekali saya tampil menggunakan pashmina dan prinsip tetap prinsip, aturan tetap aturan. Pashmina saya ulur dalam. Terus masih dikomentari juga. Laaah..saya ga tau lagi mau ngomong apa.

Mereka bilang..kamu harus ikut trend.
Laaah percuma ikut trend kalau dari diri sendiri trend begitu bikin kamu ga nyaman. Saya ga nyalahin orang yg makai pashmina atau jilbab bercorak-corak. Saya juga memakainya walau cuma kadang-kadang. Yang ga saya suka itu cara kalian menyampaikannya, itu bukan nasehat atau usulan lagi..

Yaaah sekali lagi, inilah saya. Saya memang type orang yang ga suka ikut-ikut trend, bukan berarti saya kuno. I just love simple, that make me comfort.

si paman yang menunggu bus

Yeeeay kembali lagi di kamis malam. Nah seperti yang aku certain minggu kemaren, kamis malam itu waktunya ceritain pengalaman yang horror. Sebenernya kalau lewat tulisan sih ga serem-serem amat dibandingkan kalau kita sendiri yang langsung mengalaminya. Ya udah, nikmatin aja ya guys. Percaya ga percaya sih, bagi yang percaya aku doain deh biar punya satu pengalaman horror, siapa tau habis itu percaya. Hehehe becanda ding….

Nah, malam ini nih ceritanya jauuuuuh kebelakang, lewat 14 tahun yang lalu. Waktu itu aku masih kelas 3 SD. aku masih terdaftar dalam sebuah TPQ alias taman pendidikan Qur’an yang lumayan jauh dari rumah. Tau aja kan kalau di TPQ itu program tiap hari minggu nya itu “Didikan Subuh”, programnya sih dimulai setelah shalat subuh. Namun karna rumahku lumayan jauh dan perginya cuma “goyang lutut” alias jalan kaki, aku merengek pada emak untuk pergi sebelum subuh. Emak ku ga keberatan karna teman2 ku juga banyak yang mau pergi jam segitu, dari pada telat kan?

Kira-kira pukul 4 kami (para santri) ditemani emakku berjalan kaki dari desa menuju TPQ. Kami sengaja mengambil rute jalan raya biar ga sepi plus ga horror karna masih banyak kendaraan yang berkeliaran. Ya, itu jalan itu adalah jalan lintas Sumatra. Jadi ga sepi-sepi kaya jalan di perumahan di desa-desa.

Semua berjalan lancar, sampai ditujuan pun lancar. Bagi teman-temanku dan emakku, tidak bagi ku.

Karna begitu sampai di gerbang jalan menuju musholla, aku melihat seorang bapak-bapak duduk sendirian dengan beberapa koper dan kardus. Seperti seseorang yang hendak pergi merantau dengan menunggu bus subuh-subuh sekali.

Aku merasa kasihan, kenapa tidak?

Seorang diri menunggu bus di pinggir jalan dengan barang bawaan yang begitu banyak, subuh-subuh lagi. Gelap, sepi, dan dingin. Eh ini bukan puisi galau yaaa 😀

Karna merasa kasihan aku terus memperhatikan paman tersebut, tapi ia hanya diam sambil terus menundukan kepala. Ketika aku dan rombonganku mulai masuk kearah dalam gerbang, aku menoleh lagi ke belakang, siapa tau paman tadi sudah dapat bus dan beliau  ga kedinginan lagi nunggu sendirian. Ternyata benar, paman tersebut sudah tidak ada lagi ditempat dia duduk tadi.

Mengetahui hal itu, aku langsung senang. Karna didalam pikiranku, si paman sudah mendapatkan tumpangan bus. Aku yang kegirangan dengan hal tersebut langsung membicarakannya dengan emak,

“mak, syukurlah ya si bapak tadi udah dapat tumpangan bus.”

Tiba-tiba emak memasang wajah keheranan, nah lho? #garuk-garukkepala

Trus emak nanya, “emang dimana kamu lihat bapak-bapak?”

“itu di gerbang tadi,” jawabku dengan santai. Belum kepikiran yang aneh-aneh sih. So, emak langsung pegang tanganku sambil berkata, “Any, kamu ga salah lihat? Disana ga ada siapa-siapa loh tadi?”

Kulihat teman-teman yang satu rombongan dengan ku tadi diam sambil angguk-angguk kepala dan masang wajah kengerian. Belum sadar dengan situasi, aku masih sempat-sempatnya bilang dan nanya-nanya heran, “tapi bener kok, aku lihat koper dan barang-barangnya juga”

Emak diam sejenak dan bilang, “ayo nak, nanti kita keburu azan subuh.”

Horor Part #1: Bocah Kecil Dibalik Jendela Itu

Hai hai ladies and gentleman, mau kasih tau nih kalau mulai sekarang tiap kamis malam alias malam jumat aku bakal post tulisan bertema horror, selama paket masih ada :D, haha.

kenapa harus cerita horor? Yaaa karna tiba-tiba dapat ide dari pembicaraan di salah satu grup whatsapp. Kebetulan malam itu ada sharing pengalaman horror, eh inget deh kalau aku sendiri punya banyak pengalaman horror.

Sebagian orang  ada yang percaya sama makhluk astral itu, nah sebagian lagi ga percaya. Jangan tanya kenapa deh, itu tergantung pribadi masing-masing. Kalau dia udah pernah mengalami hal-hal mistis mungkin akan percaya, gitu juga ama yang belum pernah mengalami kejadian horror. Pasti susah percaya ama yang gituan.

Tapi inget ya guys, percaya disini Cuma sekedar “percaya” kalau mereka itu ada. Bukan percaya lalu diyakini, apalagi sampai disekutuan dengan Allah. Jangan sampai deh.

Nah, untuk cerita pertama ini aku bakal ambil pengalaman ku waktu kelas 3 SMA, sekitar 4 tahun yang lalu.

Jadi gini, 4 tahun yang lalu sewaktu aku sibuk mempersiapkan diri untuk Ujian Akhir Nasional aku mengalami hal aneh plus sedikit horror dan bisa dibilang bukan kejadian yang kebetulan.

Ya, ini bukan sekedar kebetulan saja.

Aku mengalami hal yang serupa 3 kali dalam minggu itu.

Eh belum jadi cerita deh. Oke oke. Aku mulai ya

Karna ujian akhir nasional sudah semakin dekat, jadi aku sibuk belajar setiap malamnya. Alhasil aku sendirian aja di rumah, soalnya semua anggota keluarga ngumpul-ngumpul dirumah nenek, family time :D.

Sebenernya ga masalah sih sendirian di rumah, toh rumah ku kan sebelahan sama rumah nenek. Yang jadi masalah itu kebiasaan ku yang suka waktu kalau udah ketemu ama buku-buku. Yaaaaps, malam itu tanpa sadar aku belajar sendirian dengan jendela yang masih terbuka sampai jam 11.30 WIB. Boleh percaya boleh ga, tapi ini emang asli ga ditambah n dikurangi kok J.

Sedang asyik-asyiknya belajar (waktu itu aku masih belum lihat jam), aku merasa diawasi. Awalnya ga ambil peduli karna aku Cuma mikir,

“ah mungkin Cuma perasaanku saja”.

Sampai akhirnya aku meihat kearah jendela disudut rumah yang masih terbuka.

Aaaaak tiba-tiba ada sesosok anak kecil, kira-kira tingginya semeter gitulah.  Ia menatapku, dengan tangan memegang daun jendela dan wajah yang disodorkan kedalam rumah. Sontak aku kaget, dan bodohnya aku malah bertanya,

“siapa disana?”

Aku berjalan ke arah jendela, membuka jendela lebar-lebar dan celingak-celingukan keluar rumah. Hal itu ku lakukan karna saking takutnya, jadinya nekat. Tapi yang ada Cuma hening, sepi dan gelap. Ah siapa sih yang iseng?

Masih mikir yang bodoh-bodoh aja.

Setelah mikir agak lama, baru deh kepikiran lihat jam. Ternyata jam setengah 12 malam. Whaaaat? Aku langsung merapikan buku-buku dan menutup semua jendela. Setelah itu? Setelah itu aku keluar rumah, mengunci pintu dan berlari ke rumah nenek.

Sesampai dirumah nenek, selang beberapa menit tiba-tiba listrik mati dan hujan deras. Aku makin kaget. Rasa takut ketemu sosok anak kecil itu aja belum ilang, udah ditambah lagi ama listrik mati mendadak. Yang namanya listrik mati emang mendadak kali.

Setelah pertemuan pertama itu, masih ada pertemuan yang kedua dan ketiga. Dengan lokasi dan jam yang sama.

pertemuan kedua: setelah berlari kerumah nenek, tiba-tiba hujan badai, angin-angin kencang gitu, dan ujung-ujungnya listrik juga mati.

Pertemuan ketiga: sampai dirumah nenek, tiba-tiba ada gempa.

Nah, karna udah tiga kali ketemu sosok bocah perempuan itu, aku certain ke emak. Kata emak, mungkin dia ga ada niat nakut-nakutin, Cuma mau mengingatkan jangan dirumah sendirian sampai larut malam apalagi dengan jendela terbuka tanpa teralis.

Sampai disitu dulu ceritanya guys, kalau kamu jadi aku kamu mau ambil tindakan apa?

Ngeri ga ngeri nikmatin aja ya ceritanya 😀

meski tak pernah tercatat di buku sejarah manapun

Edisi kangen kakek

hei guys, tetiba kangen almarhum kakek. Udah ga pernah ketemu lagi 15 tahun lamanya. Eh ya iyalah ya, namanya juga kakek udah almarhum. Innalillah, allahumma firlahu warhamhu.

Ceritanya nih udah 2 malam ini pergi silaturrahim ke rumah sodara yang di batam ini. Nah semacam reunian, maka “mamak” (panggilan semacam “oom” untuk sodara laki-laki dari pihak ibu) bercerita tentang kakek. Banyak hal yang tidak aku tau detail tentang kakek karena kakek meninggal dunia sewaktu aku kelas 3 SD.

Kakek adalah seorang veteran tentara jaman perang NKRI dulu. Weeeww keren binggoooooow, alamak alay gue kambuh. *shy

Aku fikir aku sudah banyak tau tentang kakek, tapi ternyata tidak. Kakek sengaja menutupi bagaimana kehidupannya dulu, kehidupannya sebelum menikah dengan nenek.

Beberapa waktu lalu, sewaktu membereskan lemari mendiang kakek, aku menemukan banyak file-file ketentaraan kakek. Sontak itu mengundang banyak pertanyaan kami, para cucu dan cicitnya. Disanalah nenek baru membuka suara, mengisahkan semua tentang kakek.

Ternyata kakek bukanlah seorang yang tentara biasa yang memegang senjata ditangannya memerangi penjajah, namun ternyata kakek sudah berpangkat tinggi dengan berbagai piagam penghargaan dan bintang-bintang diseragamnya. Namun emang dasar kakek orang yang sangat rendah hati. Kata nenek dengan semua piagam dan penghargaan tersebut proses pemakaman kakek bisa saja menggunakan upacara dan tembakan penghormatan atau apalah namanya itu. Tapi skali lagi, kakek yang rendah hati lagi-lagi menyembunyikan hal tersebut. Kakek pernah bilang ke nenek kalau itu hanya masalah duniawi. Dengan atau tanpa semua penghargaan dan bintang-bintang itu kakek tetap akan dihisab nantinya dihadapan pengadilan Tuhan. Subhanallah kakek 😥

Belom lagi asal usul kakek yang ternyata masih keturunan bangsawan jawa. Busyeeet. Nama kakek panjang banget pake Raden …bla..bla..bla…sugriwo. ya, dan hanya nama yang terakhir yang dipakai kakek sampai beliau meninggal.

Jadi penasaran lho sama keluarga kakek, pernah kepikiran suatu saat kalau ada kesempatan bakalan ke kampung halaman kakek, itupun kalau nenek masih ingat nama daerahnya, ya karna nenek sekarang sudah mulai pelupa alias pikun.

Aaah, kakek, semoga anak dan cucumu bisa menjadi pribadi yang rendah hati seperti dirimu.

Kakek, mesti kau tidak tercatat dibuku sejarah manapun, kau tetaplah seorang pahlawan dihidupku.

from house to office (part 2)

Hello gaes, udah lumayan lama nih ga update. Seperti biasa kali ini ngobrolin ttg sesi from house to office.

Nah, ga terasa udah 5 bulan kerja di perusahaan ini dan Alhamdulillah nyaman. Ditulisan kali ini, aku mau ngenalin sama temen dekatku di kantor. Inisialnya E.J. kenapa mesti ttg E.J? ya karna unik dan menarik aja. Jangan salah paham dulu ya menteman, E.J ini perempuan kok. Usia kami berjarak 5 tahun, ya bisa dibilang semacam hubungan kakak adik lah ya. Ya tentu saja aku diposisi adik, disamping lebih imut dan unyu-unyu. #abaikan!

Posisi E.J di kantor sebagai purchasing. Nah di sana lah awal keakraban kami. Aku yang sebagai quantity surveyor harus banyak2 menjalin kerja sama dengan purchasing dan…tarrraaaa akrablah kami.

Bisa dibilang kami ini unik. Gimana engga? kami sering sharing ilmu dibidang kami masing2. Kalau kedengarannya sih membosankan, setiap hari cuma ngomongin ilmu, strategi, faham. Bawaan nya serius banget. Tapi bagi kami, itu hal yang unik. Dia mempelajari ilmu ketekniksipilan dariku, dan aku belajar ilmu perekonomian, perpajakan, dan akuntansi dari dia. Sampai2 kami harus terjebak di gramedia berjam-jam lamanya karna…ya apa lagi kalau bukan sudah dibutakan oleh susunan buku2.

Kami punya hobby yang sama. Membaca. Itu yang membuat kami kadang terlihat nyebelin. Aku fikir, aku orang yang gila blajar, tapi ternyata dia lebih gila lagi (belajarnya). Hehehe

Pas aku lagi buntu dalam kerjaan, dia yang nolong. Contohnya ketika mau bikin schedule pelaksanaan proyek. Sebaliknya, ketika dia sedang butuh bantuan, aku juga datang menolong. Skalian nambah ilmu yang sebenarnya bukan dibidangku. Yaitu kejadian waktu aku diajarin meng-audit data. Wuiiih keren banget guys.

Walaupun kami tak satu keyakinan, you know what I mean. kami ga rusuh, ga ribut, n ga masalah tuh. Malah dia bisa nerima keadaan pas aku bilang kalau aku ga bisa ngucapin slamat natal ke dia. Dia paham, dia ngerti.

Dan juga kalau kami pergi jalan2 atau sekedar muter2 ngilangin capek, dia ga lupa ngingetin aku shalat, bantu nyariin masjid. Ya ampun guys, nyari tempat shalat di tempat wisatanya susah. Ujung-ujungnya nyari mall yang ada tempat shalatnya.

Yaaah, aku juga ngerti kalau kami cuma bisa jalan2 nya sabtu siang pulang ngantor. Karna hari minggu dia harus ke gereja. Sebenarnya aku juga ga bisa hari minggu. Waktunya ngerjain kerjaan rumah, hehehe.

Nah, kalau udah kaya gini aku jadi kepikiran, kenapa kita ga bisa hidup damai berdampingan dengan orang yang beda keyakinan dengan kita. Kenapa mereka juga ga bisa damai berdampingan dengan kita?

Aaah udah mulai ngaco nih, skali lagi #abaikan!

Sekian dulu ya gengs, masih banyak cerita lain yang sama-sama kagak pentingnya menunggu untuk ditulis.

pertanyaan itu, bikin jleb jleb jleb

Pagi itu, Minggu 11 januari 2015 seperti biasa ayah menelponku. Kebiasaan ini sudah berlangsung belasan tahun karna ayah kerja di rantau orang, kadang di pekanbaru, tanjung pinang, tanjung balai karimun, batam, bangka belitung, medan. Pokoknya ga menetap disatu tempat.

Minggu-minggu sebelumnya aku hanya mendengar list pertanyaan berikut:

  • Sehat nak?
  • Kegiatan apa hari ini?
  • Lagi dimana? Sedang apa?bersama siapa?

Eh bukan itu lirik lagu ya, abaikan saja

Yaaa, pertanyaan sejenis itulah. Pertanyaan yang bertemakan kerinduan ingin bertemu.

Tapi kali ini beda,

Pertama, karna ayah menelpon dari rumah bukan dari lokasi kerja. Ya, ayah pulang ke kayutanam.

Kedua, dapat pertanyaan yang bener2 bikin jleb. Karna ayah nelpon dari rumah, jadi emak juga ikutan nimbrung. J
setelah bercerita panjang lebar, tiba-tiba…jreng…jreng…jreng…keluarlah cerita kesibukan beliau. Akhir-akhir ini emak ga sibuk kerja di ladang, tapi sibuk nolong tetangga yang anaknya akan menikah. Memang sudah tradisi dikampung, ketika ada yang “baralek” alias resepsi nikahan, maka para ibu-ibu sekampung saling tolong menolong di dapur.

Awalnya aku ga peka dengan maksud emak, aku hanya respon titip salam dan ucapan selamat. Namun tiba-tiba emak nanya: “any kapan?”.

Jleb jleb, aku langsung tenggelam, kehabisan napas, dan meninggal. Hahaha abaikan. Itu hanya ungkapan yang dibuat sedikit lebay.

Kenapa? Pertanyaan sejenis itu terlalu cepat.

Jangankan ingin mempersiapkan jawaban, kepikiran dapat pertanyaan itu aja ga pernah.

So, ujung-ujungnya aku jawab dengan pernyataan yang umumnya semua orang tau.

“mak, belim waktunya. Allah tau kapan yang terbaik.semua udah diatur. Jadi mak jangan khawatir. Any mau berkarir dulu”

Lalu emak menimpali dengan santai “iya, mak pengen tau aja. Siapa tau udah ada calon”.

#Gubrak